Big Data : Menyoal Klaim 123 Juta Orang Indonesia Lebih Suka Bubur Diaduk

Ditulis oleh : Panji Laksamana Surasa

Apakah mungkin bagi Big Data benar-benar memetakan seberapa banyak orang suka makan bubur diaduk ? Tulisan ini hadir sebagai hasil dari upaya saya mencari jawaban atas pertanyaan itu.

Sambil menyantap bubur favorit kami, seorang kawan yang makan buburnya diaduk, membuka perbincangan. Mulai bicara soal materi kuliah yang makin sulit, kegiatan praktek kerja lapangan yang melelahkan, hingga angan-angan penempatan yang masih jauh dari tangan. Sampai tiba-tiba, sebuah perdebatan kecil dimulai.  “Kok lu bisa makan bubur engga diaduk ?”, kawan tadi bertanya pada saya. Tentu sebagai orang yang menikmati bubur tanpa diaduk saya menyampaikan berbagai argument. Mulai dari selera hingga perkara filosofis yang diada-adakan. Sampai pada akhir pembicaraan kami, kawan tadi mengeluarkan statemen menarik. “Menurut Big Data, lebih dari 123 juta orang Indonesia lebih suka makan bubur diaduk !”, pungkasan. Tentu pernyataan itu hanya sekedar gurauan ditengah obrolan. Tetapi, buat saya yang pengetahuan teknologinya pas-pasan, pernyataan tadi memunculkan minat saya untuk mencari tahu. Apakah mungkin bagi Big Data benar-benar memetakan seberapa banyak orang suka makan bubur diaduk ? Tulisan ini hadir sebagai hasil dari upaya saya mencari jawaban atas pertanyaan itu.

Pertama, hasil riset kecil-kecilan saya soal teknologi menunjukan satu kesimpulan menarik. Akselerasi teknologi benar-benar membawa kemajuan pada berbagai aspek kehidupan kita. Carl Sagan, Astronom kenamaan dari Amerika Serikat, tidak akan menyangka bahwa perangkat komputasi dengan kapasitas jauh lebih besar dari komputer Apollo 11 dapat dibawa dalam genggaman setiap orang. Apollo 11 adalah kapal luar angkasa yang membawa Neil Armstrong ke bulan pada 1972. Apollo 11 memiliki Read Only Memory (ROM) sebesar 72 Kilobyte (KB) dan Random Access Memory (RAM) sebesar 32.768 bit. Sebagai perbandingan, gawai seharga Rp 700.000,- hasil penelusuran saya di e-commerce dengan logo berwarna hijau memiliki Ram sebesar 1 Gigabyte (GB) dan Rom sebesar 8 GB. 1 GB setara dengan 1.000.000 KB sedangkan 1 GB setara dengan 8.000.000.000 bit. Artinya gawai tersebut memiliki kapasitas Ram 240 ribu kali lebih besar dan ROM 111 ribu kali lebih besar dibanding Apollo 11. Tidak hanya kapasitas, kemampuan komputasi gawai kita juga sangat mengagumkan. Apollo 11 bekerja menggunakan satu sirkuit elektronik dengan kemampuan komputasi sebesar 0,043 MHz. Kecepatan 0,043 MHz berarti sirkuit elektronik tersebut mengerjakan setidaknya  43.000 siklus komputasi tiap detik, sedangkan gawai hasil penelusuran tadi bekerja dengan processor berkapasitas komputasi mencapai 1,3 GHz atau 30 ribu kali lebih cepat dari prosesor Apollo 11.  Jadi, kapan anda membuat kapal luar angkasa sendiri ?

Gawai adalah satu dari banyak contoh perkembangan teknologi yang luar biasa. Perkembangan tersebut sampai-sampai memunculkan istilah Revolusi Industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 pertama kali digunakan pada perhelatan Hannover Fair di Jerman. Kala itu, konsep ini digunakan untuk mendeskripsikan kemajuan industri Jerman dengan menggabungkan teknologi dan industri. Dalam kurun waktu setengah dekade, konsep revolusi industri kembali berkembang membentuk konsep Society 5.0. Society 5.0 pertama kali dicetuskan oleh Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada Pameran Teknologi Internasional di Hannover, Jerman. Konsep ini mengacu pada pemanfaatan berbagai perkembangan teknologi untuk mempermudah hidup manusia. Hasilnya, 11 tahun setelah konsep Revolusi Industri 4.0 muncul dan 5 tahun setelah society 5.0 dicetuskan, teknologi dan kehidupan hampir tidak bisa dipisahkan.  

Bagi banyak orang, teknologi benar-benar terhubung dengan hidup mereka. Menurut data Layanan manajemen konten HootSuite dan agensi pemasaran We Are Social, pada September 2021 jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai angka 202,6 juta jiwa. Jumlah tersebut setara dengan 73,7 persen populasi Indonesia. Selain penggunaan internet, penetrasi gawai di populasi penduduk Indonesia juga cukup tinggi. Menurut data Newzoo, perusahan yang melakukan analisis industri game dan penelitian pasar digital, pengguna gawai di Indonesia mencapai angka 170,4 juta jiwa atau sekitar 61,7% dari total populasi. Penggunaan internet, baik melalui gawai maupun perangkat lainnya, memungkinkan berbagai interaksi terjadi. Informasi yang diunggah maupun diunduh oleh setidaknya 202,6 juta orang Indonesia terus bertambah setiap waktu. Sekarang, bayangkan jika semua informasi tersebut dikumpulkan dalam satu tempat dan diolah sedemikian rupa untuk berbagai kepentingan. Itu lah Big Data, setidaknya menurut saya yang pengetahuan teknologinya pas-pasan.

SAS, perusahaan analisis data digital internasional, mendefinisikan Big Data sebagai istilah yang menggambarkan volume besar data – baik terstruktur maupun tidak terstruktur – yang membanjiri bisnis sehari-hari. Tentu saja data tersebut tidak terbatas pada informasi keuangan atau kondisi pasar secara makro tetapi juga data-data mikro yang bersifat individu. Pasti kita semua sadar betapa internet memahami kita dengan menunjukan berbagai iklan sesuai kebutuhan dan keinginan kita. Iklan tersebut tentu tidak muncul secara acak. Data dari riwayat pencarian, jejak laman internet, atau penggunaan aplikasi, dikumpulkan untuk memahami kebutuhan dan keinginan kita. Dititik yang lebih ekstrim, data pribadi setiap orang digunakan untuk memahami berbagai kebutuhan dasar mereka. 

Pemanfaatan Big Data untuk penempatan iklan hanya satu dari sekian manfaat yang mungkin dicapai. Dalam bidang kesehatan misalnya, Big Data dapat digunakan untuk mengetahui riwayat penyakit, aktivitas fisik terkini, dan kesibukan pasien. Di dunia pendidikan, Big Data amat berguna untuk menyusun berbagai pengetahuan agar makin mudah diakses. Di tubuh pemerintahan, Big Data sejatinya dapat menjadi senjata ampuh dalam efisiensi birokrasi, kalau diterapkan secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab tentunya.

Reportase Tirto.id pada 2017 berjudul “Big Data: Kunci Pemenangan Pemilu”  menunjukan bagaimana Big Data dapat menjadi alat politik yang mangkus. Reportase tersebut menjelaskan pemanfaatan Big Data untuk mewujudkan kampanye tepat sasaran. Pada pemilu AS 2016, Trump CS berhasil memaksimalkan penggunaan Big Data untuk memenangkan pemilu melawan Hillary Clinton. Trump menggunakan jasa Cambridge Analytica, perusahaan konsultan politik asal Inggris, untuk menganalisis data penduduk di seantero Amerika Serikat. Data tersebut diolah untuk mengetahui berbagai kecenderungan penduduk di tiap daerah. Kecenderungan penduduk nantinya digunakan oleh Trump untuk melakukan kampace secara microtargeting.menargetkan tuntutan masyarakat secara spesifik di setiap negara bagian. Hasilnya, kampanye Trump punya lebih banyak variasi sesuai kecenderungan tiap daerah.

Sayangnya, pemanfaatan Big Data di Indonesia belum banyak berkembang. Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) misalnya, saya masih belum menemukan kegiatan elektronik lain dari e-KTP selain saat proses pendaftaran. Di luar itu, e-KTP tidak berbeda dengan kartu identitas retro yang perlu difotocopy untuk setiap urusan birokrasi. Bahkan, Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) PKN STAN jauh lebih elektronik dengan dilengkapi barcode identitas. Melihat kondisi demikian, nampaknya menyudahi perdebatan soal bubur diaduk atau tidak menggunakan Big Data masih jauh panggang dari api. Beruntungnya, kawan saya itu hanya melontarkan pernyataan ditengah obrolan kami. Coba bayangkan jika pernyatan tadi didengar seluruh pencinta bubur tidak diaduk ? Terdapat dua kemungkinan, tuntutan klarifikasi, atau hanya dianggap angin lalu. Toh kawan saya tadi juga masih seorang “mahasiswa”, tanpa kapasitas pengetahuan atau sumberaya mumpuni untuk menjamin pernyataannya. Akan berbeda kejadiannya kalau pernyataan tadi dilontarkan oleh ketua asosiasi pedagang bubur Indonesia, Chef Renata, atau mungkin para tokoh perbuburan Indonesia. Kalau pernyataan itu salah, akan tetap mendapat dukungan terutama dari pendukung tokoh tersebut. Kalau pernyataan itu benar, akan menarik untuk mengetahui Data apa yang digunakan hingga memunculkan pernyataan itu. Jangan-jangan di setiap tukang bubur terdapat cctv yang mengamati cara makan tiap penikmat bubur.

Tentang Penulis 

Panji Laksamana Surasa

“Mahasiswa penikmat bubur tidak diaduk.”