Closerec, Bukti Nyata Warisan Budaya Era Pra-Reformasi

Ditulis oleh : Fachrezi Alfrian

Pendahuluan

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai closerec, tentu akan lebih baik apabila membahas terlebih dahulu definisinya. Closerec sendiri, seperti yang kita ketahui merupakan sebuah mekanisme rekrutmen tanpa melalui tahapan proses seleksi baik itu berupa pendaftaran, screening CV, bahkan wawancara. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan adanya tawaran secara pribadi oleh pengurus/panitia kepada seseorang untuk bergabung dalam kegiatannya.

Closerec sebenarnya merupakan “slang word” yang berasal dari sinonimnya yaitu nepotisme, di mana nepotisme berarti lebih memilih kerabat untuk menempati posisi tertentu, bukan berdasarkan pada keterampilan, melainkan berdasarkan hubungan kekerabatan. Closerec sendiri tentu banyak menuai polemik dalam pelaksanaannya, tentu saja hal tersebut menuai permasalahan karena menimbulkan ketidakadilan dan ketimpangan informasi yang dialami oleh peserta (pendaftar) lain yang dalam hal ini mengikuti alur seleksi.

Permasalahan

Permasalahan terkait closerec ini tentu kian memuncak dengan berbagai polemiknya. Berangkat dari ketidakadilan dan ketimpangan informasi yang dialami oleh pendaftar (calon panitia/pengurus), adanya kegiatan berupa closerec tersebut semakin membuktikan bahwa closerec merupakan akar permasalahan dari berbagai tindak tidak terpuji.

Berangkat dari dasar berupa nepotisme itulah, closerec dinilai seakan menjadi normal karena banyak terjadi hal tersebut di manapun, tak terkecuali PKN STAN. Yap, perguruan tinggi yang menjunjung tinggi integritas, ironisnya terjangkit nepotisme yang menjamur, dan sesuai template, seperti yang sudah kita ketahui, jawaban dari kontra terkait adanya nepotisme tersebut tidak pernah keluar dari jawaban seperti “ya kan kita udah tau kerjanya gimana” atau “mereka udah terbukti bagus kok kerjanya.” Nah, menganggap suatu kesalahan menjadi wajar karena banyak yang melakukan adalah salah satu bentuk logical fallacy. Padahal, “Two wrongs don’t make a right.”

Masih adanya closerec ini merupakan indikasi tidak sehatnya suatu organisasi, dan bertentangan dengan visi & cita reformasi, yaitu menghilangkan nepotisme. Kampus merupakan miniatur negara, dan menurut penulis hal itu benar. Sayangnya, miniatur negara tersebut malah mencontoh era gelap dari sejarah bangsa ini, yaitu keagungan nepotisme dan politik dinasti.

Persoalan closerec yang menjangkiti tubuh organisasi maupun kepanitiaan yang ada di PKN STAN ini, tumbuh dan berkembang layaknya sebuah dinasti politik. Seperti yang sudah sering kita lihat ketika ada sebuah pengumuman daftar panitia, tentu kita sudah bisa menebak, siapa saja orangnya, siapa saja kabidnya, dan siapa saja staff yang tentu saja merupakan kerabat dekat dari yang memegang kuasa tersebut.

Padahal, jika ditarik ke arah yang lebih luas, nepotisme ini selain bertentangan dengan cita reformasi, juga bertentangan dengan pancasila, tepatnya sila ke-4. Menariknya, terdapat peraturan PKN STAN yang melarang mahasiswanya untuk bertentangan dengan pancasila. Namun sayangnya selama ini kegiatan closerec ini dianggap tidak signifikan dampaknya atau tidak terlalu berbahaya sehingga tetap ada dan berkembang hingga saat ini, padahal nepotisme merupakan indikasi atau bibit dari perilaku yang berbahaya apabila terus menerus dibiarkan.

Dampak

Adanya nepotisme dan dinasti tersebut tentu berdampak bagi keberlangsungan kehidupan kemahasiswaan. Nepotisme layaknya dua mata pisau yang memiliki dua fungsi, supaya adil, penulis akan menjelaskan mengenai dampak baik dari adanya closerec tersebut, dan tentu saja dampak buruk yang bahkan lebih banyak. Nepotisme yang ada ini selayaknya dinasti politik yang tumbuh seperti pohon keluarga/kerabat

Dampak positif dari adanya nepotisme, tentu saja merekatkan hubungan antar kerabat tadi, karena tentu akan merasa berterima kasih dan dihargai karena telah direkrut secara tertutup dan tanpa mengikuti alur seleksi seperti calon yang lain. Namun, dampak positif secara meluas dari nepotisme ini adalah acara yang dijalankan cenderung sesuai dengan keinginan dari panitia karena mampu menggerakkan tenaga yang dipilih berdasarkan hubungan dekat tanpa ada perbedaan pendapat.

Di sisi lain, tentu saja nepotisme tersebut memiliki dampak negatif yang masif. Dampak negatif bahkan sudah dapat dirasakan dari awal, yaitu ketimpangan informasi dan ketidakadilan terhadap peserta (pendaftar). Selain itu, adanya nepotisme yang sesuai dengan pengertiannya yaitu lebih memilih seseorang berdasarkan hubungan kerabat (dekat) bukan berdasarkan keterampilan, tentu

saja hal ini selain mematikan inovasi, juga akan berdampak pada mengesampingkan profesionalisme dan keterampilan dari tiap-tiap staffnya, serta akan terjadi kecenderungan konflik loyalitas.

Hal tersebut dapat kita lihat secara seksama, dalam beberapa kepanitiaan yang ada, seperti yang kita ketahui di mana panitia acara-acara tersebut, adalah sama, atau bahasa simpelnya yaitu “orangnya itu-itu aja,” memiliki konsep, kegiatan, dan acara yang hampir sama, bahkan dapat dikatakan sama. Nah, hal tersebut menggambarkan bahwa kegiatan kepanitiaan yang dijalankan, tak ubahnya seperti acara-acara tv yang mengejar rating dan terus-menerus mengulang formula yang sama, dalam hal kepanitiaan di PKN STAN, formulanya adalah webinar, short movie, dan tiktok. Kalian pasti sudah tau acara apa saja yang dimaksud.

Penutup

Tulisan ini dibuat sebagai kritik dari budaya nepotisme yang ironisnya dianggap wajar bahkan di kampus yang menjunjung tinggi integritas ini. Terdapat beberapa hal, khususnya pelaksanaan alur seleksi yang bahkan sudah terasa dampak nepotismenya, yaitu staff yang dipilih melalui closerec bahkan ikut untuk mewawancarai calon staff. Hal tersebut tentu melanggar aturan, meskipun tidak ada aturan tertulisnya, namun hal tersebut menabrak norma dan etika yang berlaku.

Dalam menulis kritik ini, tentu diharapkan solusi. Namun, kritik tak selalu memerlukan solusi. Nah bahasan mengenai “Perlukah Solusi dalam Tiap Kritik” akan dibahas secara terpisah. Namun, penulis berharap besar kepada yang memiliki kuasa untuk mengatur permasalahan ini untuk bergerak. Bergerak melawan arus dan membawa perubahan, hal tersebut mungkin dapat dimulai dari merubah pola rekrutmen setiap kepanitiaan, baik itu perubahan mekanisme, maupun perubahan alur seleksi, misalnya mengadakan fit & proper test kepada pendaftar seleksi. Permasalahan ini dapat diatasi apabila organisasi yang bertugas mengawasi pelaksanaan, menjalankan fungsinya dengan baik. Akhir kata, penulis menyampaikan maaf apabila terdapat kesalahan, kekeliruan, ataupun hal yang menyinggung. Terkhusus persoalan menyinggung memang sengaja, supaya dapat tersadar dan melakukan perubahan.

– Diam menyimak, bergerak berontak dan bertindak –

Tentang Penulis 

“Seorang mahasiswa biasa yang senang bercerita dan berbagi pengalaman, serta ingin membawa perubahan ke arah yang lebih baik karena sepanjang pengalaman saya, terdapat banyak ketidakadilan khususnya dalam kegiatan yang katanya ‘Oprec’ yang sudah menjamur dan sayangnya dianggap wajar.”